KH Masdar Farid Mas'udi, bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

JAKARTA, harianpijar.com – Rais Syuriah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, berpendapat bahwa tidak boleh memaknai surat Al Maidah ayat 51 secara terpisah dari surat Al Mumtahanah ayat 8.

Menurut KH Masdar Farid Mas’udi, surat Al Mumtahanah memperjelas kriteria pemimpin yang boleh dipilih. Karena, kedua ayat itu harus dilihat secara holistik.

“Dalam surat Al Mumtahanah ayat 8 bahwa yang tidak boleh dipilih sebagai ‘aulia’ (pemimpin-red) adalah orang non-Muslim yang memerangi kamu dan mengusir kamu dari negeri kamu. Kalau sekadar beda agama, enggak masalah,” kata Masdar Farid Mas’udi dalam kesaksiaannya dalam sidang dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu 29 Maret 2017.

Lebih lanjut, ditegaskan Masdar Farid Mas’udi, dirinya menjadi saksi meringankan yang dihadirkan tim kuasa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam persidangan.

Selain itu, juga dijelaskan Masdar Farid Mas’udi, Islam memperlakukan sama semua anggota masyarakat. Lain itu, tidak boleh ada diskriminasi berdasarkan perbedaan suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA).

“Yang terpenting bagi Islam itu adil. Bisa enggak melindungi hak warga. Keadilan adalah inti dari keberagaman dan kepemerintahan,” jelas Masdar Farid Mas’udi.

Sementara, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) didakwa melakukan penodaan agama karena mengutip surat Al-Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu. Selanjutnya, JPU mendakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP.

loading...