Miryam-S-Haryani
Miryam S Haryani. (foto: detik.com)

JAKARTA, harianpijar.com – Dokumen Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas nama Miryam S Haryani, beredar. Lain itu, dokumen hasil pemeriksaan Politikus Partai Hanura itu diduga bocor ke publik.

Selanjutnya, dari dokumen setebal 27 halaman itu Miryam S Haryani diperiksa empat kali sebagai saksi atas terdakwa Sugiharto, 1 Desember, 7 Desember, 14 Desember 2016 serta 24 Januari 2017 lalu. Berdasarkan dokumen yang diduga BAP itu, Miryam diperiksa penyidik Novel dan Susanto.

Selain itu, dalam dokumen tersebut disebutkan pada pemeriksaan itu Miryam S Haryani diduga berperan sebagai perantara dan membagi-bagikan uang suap proyek e-KTP dari terdakwa kasus korupsi e-KTP Sugiharto kepada anggota Komisi II DPR atas penugasan dari pimpinan komisi.

Selanjutnya, dikatakan Miryam S Haryani, dirinya juga mengaku kenal dengan para terdakwa Sugiharto dan Irman, bahkan pernah bertemu di DPR.

“Saya juga pernah datang ke Kantor Dukcapil dan di ruangan kerja yang bersangkutan dalam rangka pengecekan proyek e-KTP di Kalibata,” kata Miryam S Haryani dalam halaman 2 yang diduga BAP tersebut. Tapi Miryam S Haryani mengaku tidak kenal Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Namun, dijelaskan Miryam S Haryani, dirinya mengaku Andi merupakan orang dekat Setya Novanto. “Dan ini sudah bukan rahasia umum,” jelas Miryam S Haryani.

Lain itu, didalam dokumen yang diduga BAP itu Miryam S Haryani juga mengaku menerima uang dua kali pada 2011 dari Sugiharto berupa pecahan USD 100 yang diikat karet dan dimasukkan amlop itu dititipkan oleh Sugiharto langsung ke rumah Miryam S Haryani. Pengiriman pertama 100.000 dolar AS dan kedua 200.000 dolar AS.

Sesuai perintah pimpinan Komisi II, Miryam S Haryani membagi-bagi uang itu dalam amplop terpisah. Seluruh amplop berisi uang dollar kemudian diberikan kepada nama-nama yang terdata dalam daftarnya di Komisi II. Para pimpinan Komisi II seluruhnya menerima uang USD 3.000 terkecuali satu orang, Ganjar Pranowo.

“Saya berikan Rp100 juta kepada saudara Ganjar Pranowo dari Fraksi PDI Perjuangan namun dikembalikan lagi kepada saya, saya serahkan kembali kepada sdr Yasona Laoli selaku Kapoksi,” terang Miryam.

loading...