Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, publik menilai kebijakan Presiden Joko Widodo hanya menguntungkan pihak tertentu.

JAKARTA, harianpijar.com – Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama 2,5 tahun memimpin Indonesia sebesar 66,4 persen. Hal ini menurut hasil survei Indo Barometer.

Menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari, sebanyak 12,3 persen publik menilai kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya menguntungkan pihak tertentu. Bahkan publik tidak puas kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena dianggap boneka PDI-Perjuangan dengan 9,9 persen.

Sementara, menurut Politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bukan boneka partai sebagaimana yang disebutkan dalam survei. Namun, menurutnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) lebih pantas disebut boneka rakyat karena taat pada konstituen dan konstitusi.

“Pak Jokowi dibebaskan menjalin hubungan dengan siapa saja dan negara manapun tanpa terikat pada satu negara tertentu. Tidak ada kekuatan dominan. Keseimbangan tetap terjaga,” kata Maruarar Sirait di Jakarta, Kamis 23 Maret 2017.

Lebih lanjut, dikatakan Maruarar Sirait, mulai dari Presiden Abdurrahman Wahid sampai ke Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), orang nomor satu di TNI selalu dipilih secara bergiliran di antara matra yang ada. Pada saat SBY, Panglima TNI adalah Jenderal Moeldoko dari TNI AD. Sesuai tradisi maka Panglima TNI selanjutnya adalah dari matra AU.

Namun, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak menginginkan hal itu. Dirinya lebih memilih berdasarkan kapasitas dan memilih Gatot Nurmantyo yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dari TNI AD.

“Pak Gatot bagus kepercayaan publiknya. Kalau Pak Jokowi salah pilih kepercayaan publik enggak akan setinggi ini,” kata Maruarar Sirait.

Selain itu, dalam memilih Kapolri, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga tidak melihat berdasarkan senioritas angkatan dan memilih berdasarkan dengan kapasitas.

Menurut Maruarar Sirait, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih Tito Karnavian, pada saat itu Tito Karnavian dibilang sukses menjadi Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, Kapolda Papua, dan Kapolda Metro Jaya. Sementara, saat itu ada nama Komjen Pol Budi Gunawan.

Sedangkan, menurut Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono membantah bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya menurut saja dengan partainya, sehingga diistilahkan seperti boneka. Lain itu, kata Agung, sifat Joko Widodo yang kental budaya Jawa membuatnya seolah menuruti semua keinginan partai.

“Dia Jawa tulen, lebih ewuh pakewuh (rasa segan). Bukan karena saya dukung beliau, kenyataannya beliau berani berbeda,” kata Agung Laksono.

loading...