Wakil Gubernur Kalteng Habib Said Ismail, upaya pemerintah menyelesaikan masalah tapal batas ini sudah berlangsung lama. Bahkan, sewaktu saya masih anggota DPRD, masalah ini juga pernah dicoba diselesaikan.

SAMARINDA, harianpijar.com – Beberapa faktor menjadi penyebab sengketa tapal batas antara Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Timur (Kaltim). Lain itu, salah satunya adalah kekayaan sumber daya alam di lokasi tersebut dan ini dibuktikan dengan besaran royalti yang dihasilkan dari ekspoitasi di kawasan itu.

Menurut Wakil Gubernur Kalteng Habib Said Ismail, upaya pemerintah menyelesaikan masalah tapal batas sudah lama sekali.

”Upaya pemerintah menyelesaikan masalah tapal batas ini sudah berlangsung lama. Bahkan, sewaktu saya masih anggota DPRD, masalah ini juga pernah dicoba diselesaikan,” kata Habib Said Ismail, Sabtu 18  Maret 2017.

Lebih lanjut, ditegaskan Habid Said Ismail, akibat pergeseran tapal batas, kekayaan alam yang seharusnya milik Kalteng berkurang. Hal itu yang membuat pemprov terus berjuang agar permasalahan yang berlangsung bertahun-tahun itu dapat sesegera mungkin terselesaikan.

”Maka dari itu, harus ada pertemuan antara kedua pemerintah agar permasalahan batas ini dapat segera dituntaskan. Diminta kepada semua pihak agar tidak terprovokasi dan menahan diri selama proses,” tegas Habib Said Ismail.

Selanjutnya, juga menurut Habib Said Ismail, dugaan lain munculnya sengketa terebut lantaran adanya regulasi larangan pengiriman ke luar daerah SDA yang digali di Kalteng. Karena, ada kemungkinan tekanan yang dibuat pemerintah turut menjadi salah satu pemicu sengketa tata batas tersebut.

”Mungkin karena PT BEK merasa ada regulasi yang mempersulit bisnisnya, hingga mereka mengikuti apa yang dikeluarkan pusat terkait peta batas Kementerian ESDM dan Kaltim. Jadi, Pemprov Kalteng terus menyelesaikan masalah ini,” tandas Wakil Gubenur Kalimatan Tengah itu.

loading...