Ketua RT 09 RW 02 Karet Setiabudi, Abdul Rahman, mushola ini tidak ada spanduk itu, warga wajib mensholatkan orang yang meninggal, semua warga gotong royong.

JAKARTA, harianpijar.com – Ketua RT 09 RW 02 Karet Setiabudi, Abdul Rahman membantah warganya menolak menyalatkan jenazah nenek Hindun binti Raisman (77) di Mushola. Lain itu, jenazah nenek Hindun disalatkan di rumah lantaran kondisi cuaca yang buruk.

Menurut Abdul Rahman, dirinya memastikan prosesi yang dilakukan di rumah itu dinilai telah sesuai syariat Islam.”Semua proses telah dilaksakaan, mulai dari memandikan, mengkafani dan menyalatkan. Hanya masalah waktu dan kondisi cuaca sehingga jenazah disalatkan di rumah,” kata Abdul Rahman saat ditemui di kediaman almarhumah nenek Hindun di Jalan Karet Karya II, Karet, Setiabudi, Senin, 13 Maret 2017.

Lebih lanjut, ditegaskan Abdul Rahman, seluruh prosesi pemakaman dilakukan oleh tokoh agama setempat. Selain itu, tidak ada unsur politik dari proses pemakaman jenazah nenek Hindun. Karena itu, dirinya juga membantah polemik ini berawal dari pemasangan spanduk penolakan menyalatkan jenazah bagi pendukung pasangan Ahok-Djarot.

“Mushola ini tidak ada spanduk itu, warga wajib menyalatkan orang yang meninggal, semua warga gotong royong,” tegas Abdul Rahman.

Sementara, menurut Ustadz Samiin Aziz, warga yang memimpin prosesi pemakaman juga menyampaikan alasan yang sama. Semua tahapan proses pemakaman jenazah nenek Hindun binta Raisan (77) telah dilakukan. Bahkan, klarifikasi juga sudah disampaikan dalam forum tokoh masyarakat setempat yang juga dihadiri pemerintah administrasi Kota Jakarta Selatan.

“Pak Walikota Jakarta Selatan (Tri Kurniadi) sudah mendengar, sudah terang benderang. Sudah dikoordinasikan dengan aparat setempat dalam sebuah forum tokoh warga. Keputusan di rumah karena mau hujan, karena waktu tidak kondusif. Semua ini tidak ada yang sia-sia, kita tulus dengan lingkungan,” kata Ustadz Samiin Aziz.

SUMBERMetrotvnews.com
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR