Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kabar itu menjadi viral karena wilayah Jakarta masih tegang menjelang Pilkada 2017 putaran kedua, bukan berarti hal itu layak untuk membenarkan munculnya konflik akibat kabar tentang rumah ibadah.

JAKARTA, harianpijar.com – Kementerian Agama menanggapi konflik akibat kabar tidak disalatkannya jenazah almarhumah nenek Hindun binti Raisan (77), di mushalla Al Mukmin, Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Selasa 7 Maret 2017 lalu, karena memilih seorang calon kepala daerah yang tidak didukung mayoritas di daerahnya. Lain itu, terlepas kabar itu benar atau tidak, tidak seharusnya konflik itu terjadi.

Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kabar tidak dishalatkannya jenazah almarhumah nenek Hindun binti Raisan (77), di mushalla Al Mukmin, Setiabudi, Jakarta Selatan, karena memilih seorang calon kepala daerah yang tidak didukung mayoritas di daerahnya, tidak seharusnya konflik itu terjadi

“Rumah ibadah adalah tempat suci, jangan dijadikan pemicu konflik di antara kita,” kata Lukman Hakim Saifuddin di Istana Kepresidenan, Senin, 13 Maret 2017.

Seperti diberitakan, konflik tentang salat jenazah di masjid itu bermula dari beredarnya kabar Mushala Al Mu’min, Setiabudi, Jakarta Selatan menolak menyalatkan jenazah seorang nenek bernama Hindun binti Raisan. Almarhumah Hindun binti Raisan (77) adalah pendukung pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat.

Namun, pada waktu bersamaan, ada spanduk penolakan salat jenazah terhadap pendukung Ahok-Djarot di dekat mushala tersebut.

Selanjutnya, kabar tersebut menjadi viral tanpa konfirmasi. Namun, belakangan keluarga almarhumah Hindun binti Raisn membantah kabar bahwa tidak adanya salat jenazah untuk almarhumah Hindun di Mushala akibat almarhumah memilih Ahok. Tapi karena saat itu pengurus masjid menyarankan salat jenazah dilakukan di rumah mengingat waktu hampir malam.

Sementara, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memaklumi jika kabar itu menjadi viral karena wilayah Jakarta masih tegang menjelang Pilkada 2017 putaran kedua. Namun, bukan berarti hal itu layak untuk membenarkan munculnya konflik akibat kabar tentang rumah ibadah.

“Apa yang seharusnya terjadi adalah masing-masing pihak menahan diri atas potensi konflik yang bisa terjadi. Dengan begitu, masalah yang berkaitan dengan rumah ibadah tidak merembet ke masalah politik,” kata Lukaman Hakim Saifuddin.

Selain itu, dirinya juga menghimbau agar semua betul-betul menempatkan agama pada tempatnya. “Rumah ibadah seharusnya dijadikan tempat paling aman bagi kita semua karena Tuhan menjamin siapa yang masuk dan berada di dalamnya, wajib dijaga keselamatannya,” tandas Lukman Hakim Saifuddin.

SUMBERTempo.co
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR