Syamsul Bahri tetangga nenek Hindun, soal jenazah almarhumah nenek Hindun yang tidak dishalatkan di mushala, waktunya tidak memungkinkan.

JAKARTA, harianpijar.com – Calon gubernur DKI Jakarta dengan nomo urut dua Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendatangi rumah almarhumah nenek Hindun binti Raisan (77). Lain itu, sebelumnya diketahui jenazah almarhumah nenek Hindun binti Raisan (77) yang tidak disalatkan di mushalla Al Mukmin, Setiabudi, Jakarta Selatan, pada Selasa 7 Maret 2017 lalu.

Sementara, calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang datang sekitar pukul 09.15 WIB, Senin 13 Maret 2017, saat sebelum masuk ke gang sempit rumah kediaman almarhumah nenek Hindun, sempat berbincang sejenak dengan warga.

Sedangkan, pertemuan antara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan pihak keluarga nenek Hindun sendiri dilangsungkan secara tertutup. Untuk media hanya diberi waktu sebentar untuk mengabadikan kedatangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di rumah tersebut dan terlihat duduk bersila dan berbincang dengan anggota keluarga almarhumah nenek Hindun.

Sebelumnya, dikatakan Sunengsih (46) putri almarhumah nenek Hindun, ibunya meninggal Selasa 7 Maret 2017 baru lalu. Selanjutnya, setelah memandikan jenazah di rumah, dirinya lalu menghubungi pengurus musala Al Mu’minun yang berada di dekat rumahnya.

“Saya ngomong ke Ustaz Syafi’i (pengurus musala -red), ‘Pak Ustaz ini ibu saya minta disalatkan di mushala bisa nggak. Pak Ustaz langsung jawab, nggak usah, Neng, percuma. Udah di rumah aja. Entar saya pimpin’. Memang benar sih dia pimpin, saya bilang ya udah,” kata Sunengsih saat ditemui di rumahnya, Jl Kramat Raya 2, Gang CC, RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu 11 Maret 2017.

Namun, menurut Sunengsih, meski menerima jenazah ibunya disalatkan di rumah, dirinya menyimpan penyesalan karena tidak bisa memenuhi keinginan ibunya disalatkan di mushala. Apalagi setelah muncul isu mushala Al Mu’minun memang menolak menyalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama.

Kemudian, setelah dua hari jenazah almarhumah nenek Hindun dimakamkan, cerita putrinya Sunengsih ini mengalir dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga lurah dan camat. Selanjutnya, Lurah dan Camat sampai datang ke rumah Sunengsih, yang kemudian mengadukan kabar soal penolakan menyalatkan jenazah di mushala Al Mu’minun.

Sementara, Syamsul Bahri yang merupakan tetangga Sunengsih, menyampaikan cerita berbeda. Dirinya mengatakan warga membantu mengurus jenazah almarhumah nenek Hindun dan warga juga datang untuk melayat.

“Waktu itu saya baru pulang dari kantor, berita duka terdengar di mushala-mushala RW 5. Itu pergerakan secara otomatis, kalau warga RW 5 itu untuk berita duka cepet gotong royongnya. Saya bersama pengurus masjid, Ustaz Syafii, langsung ambil pemandian mayat di masjid lainnya, kita dorong, kita siapkan, kita hubungin yang memandi mayat,” kata Syamsul Bahri.

“Yang memandikan mayat, papan, sampai ambulance¬† semua orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan. Mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu enggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulance. Akhirnya datang, ambulance Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita,” tegas Syamsul Bahri.

Sedangkan, juga menurut Syamsul bahri, soal jenazah almarhumah nenek Hindun yang tidak disalatkan di mushala,  menurutnya waktunya tidak memungkinkan.

“Ustadznya salatin dan warga ikut salatin. Untuk klarifikasi bahwa mushala tidak mau mensalati itu salah. Karena waktu yang membuat seperti itu. Kenapa, meninggal pukul 13.30 WIB. Memandikan jam 17.00 WIB, pemandiannya, rempah-rempahnya itu butuh waktu. Sehabis memandikan selesainya jam 17.30 WIB masuk ke rumah, karena kebetulan rumahnya gangnya sempit. Warga ngelayat langsung pulang, karena kalau tidak langsung pulang rumahnya penuh,” tegas Syamsul Bahri.

Selanjutnya, sampai situ mandiin, kafanin, doain, keluarga cium itu ada proses waktu. Kira-kira selesainya jam 18.00 WIB kurang. Cuaca waktu itu sudah gelap, mau hujan besar. Kalau kita ke mushala lagi, itu akan memakan waktu, jangan sampai ke kuburan itu malam.

“Inisiatif ustadz dan tokoh-tokoh abis mayat ditutup langsung disalatin di situ. Kebetulan kalau di mushala jemaah kita belum pada pulang kerja, ada yang berdagang,” jelas Syamsul Bahri.

Selain itu, sampai selesai salatin jam 18.00 WIB lewat, langsung ke ambulance biar enggak kemaleman, sesudah di ambulance pas perjalanan di Kuningan macet, sampai di Kuningan hujan besar itu jam 18.30 WIB. Sampai selesai jam 19.00 WIB kurang.

“Warga ada yang ikut dan ada yang enggak, karena ada yang punya keperluan, jadi saya klarifikasi warga pada ikut, tokoh-tokoh juga ikut termasuk Ustadz Syafii dan pengurus mushala,” kata Syamsul Bahri.

Sedangkan, menurut Ketua RT 9 RW 5, Abdurrahman (40), dirinya mengamini semua cerita Syamsul Bahri. Lain itu, dirinya mengatakan warga ikut membantu mengurus jenazah almarhumah nenek Hindun. Lain itu, dirinya membantu surat menyurat kematian jenazah almarhumah nenek Hindun.

Menyoal salat jenazah, Abdurrahman mengatakan bisa di mushala, bisa juga di rumah. Soal salat jenazah di rumah merupakan hal biasa, menyesuaikan dengan kondisi.

“Semua, RW sini, kalau ada kejadian meninggal di rumah kalau salat bisa di rumah bisa di mushala. Almarhumah nenek Hindun di rumah karena waktunya mepet sekali ya,” kata Abdurrahman.

Selain itu, Abdurrahman mengakui, kalau dirinya memang tidak ikut terlibat langsung dalam mengurus jenazah almarhumah nenek Hindun. Namun dirinya ikut membantu surat menyurat, termasuk soal sosialisasi di RW. Dirinya juga ikut membantu pembagian tugas mengurus jenazah.

Disinggung soal spanduk penolakan mensalatkan jenazah yang sempat dipasang di Mushala Al Mu’minun, Abdurrahman tidak mau bicara banyak. Dirinya mengatakan itu merupakan inisiatif warga. Namun dirinya mengaku tidak tahu siapa yang memasang.

“Dalam arti perbedaan tidak ada masalah memang berbeda-beda. Spanduk ada, ya itu jemaahnya atas persetujuan jemaah yang massa Islam mungkin,” tandas Abdurrahman.

loading...