Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, pertarungan akan berebut di kelas bawah.

DENPASAR, harianpijar.com – Pilkada DKI Jakarta putaran kedua diprediksikan berjalan imbang, dengan estimasi gap antara pemenang dan pecundang tidak lebih dari tiga persen. Lain itu, dua pasang calon gubernur dan calon wakil gubenrur DKI, diperkirakan menggarap kelas ekonomi dan pendidikan menengah kebawah.

Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, dalam memenangkan jumlah suara, kedua kandidat yakni Ahok-Djarot dan Anies-Sandi diperkirakan akan sama-sama fokus menggarap kelas ekonomi dan pendidikan menengah ke bawah.

“Pertarungan akan berebut di kelas bawah,” kata Yunarto Wijaya dalam Underwriting Network 2017, yang digelar akhir pekan ini di Denpasar, Bali.

Lebih lanjut, ditegas Yunarto Wijaya, ini dapat dilihat dari rekam jejak pendapat yang beberapa kali dilakukan sejumlah lembaga survei dan social media monitoring. Lain itu, dalam bermedia sosial pilihan politik kelas menengah dan menengah ke atas sudah sulit diubah.

Hal ini berlaku baik bagi pendukung atau pemilih pasangan calon dengan nomor urut dua maupun pasanga calon dengan nomor urut tiga. Menurutnya dikelas ini dirinya melihat informasi hoax, hampir tidak memiliki efek sama sekali terhadap pilihan politik.

“Ketika bermain sosial media, mereka hanya menjustifikasi apa yang menjadi pilihan mereka. Efek hoax hampir tidak ada, karena masing-masing masturbasi intelektual,” tegas Yunarto Wijaya.

Sementara, dijelaskan Yunarto Wijaya, pada putaran pertama kemarin hasil exit poll Charta Politika menunjukkan pemilih pasangan calon nomor dua adalah orang-orang yang berpendidikan akademi dan ke atas. Sedangkan mayoritas pemilih pasangan calon nomor urut tiga adalah berpendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan di bawahnya.

“Ini linear dengan data kalau pendapatan Rp 4 juta ke atas memilih Ahok-Djarot, pendapatan Rp 4 juta ke bawah pilihannya Anies-Sandi,” jela Yunarto Wijaya.

Selain itu, menurut Yunarto Wijaya, demografi pemilih dengan pola seperti itu sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, hal serupa juga terjadi antara Partai Demokrat dan Partai Republik.

Namun, dikatakan Yunarto Wijaya, yang mengerikan di Indonesia adalah apabila data demografi pemilih itu bersanding dengan isu agama. “Kalau isu agama dikembangkan, seakan-akan menjustifikasi, ‘kandidat itu cuma bela orang kaya, miliknya orang kaya, bukan orang miskin’,” kata Yunarto Wijaya.

Karena itu, dari informasi yang dia peroleh, saat ini tim sukses pasangan calon nomor dua tengah menggarap kelas menengah ke bawah, pasar pemilih yang tidak mereka kuasai di putaran pertama. Sementara, pasangan calon nomor tiga yang sudah menang di market ini, akan berusaha menjaga pangsa pasarnya.

Menurut Yunarto Wijaya, yang dikhawatirkan dari strategi ini, adalah instrumen-instrumen yang mungkin akan digunakan untuk menjaring pasar menengah dan ke bawah.

“Pertarungannya bukan lagi adu hoax lewat jempol, tetapi adu isu macam-macam, lewat instrumen apapun termasuk teror dan uang, kalau itu yang digarap pasar bawah. Saya berharap itu tidak terjadi. Tetapi, biasanya polanya seperti itu,” tandas Yunarto Wijaya.

loading...