Dimyati Natakusuma, toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai, dengan sabar menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain.

JAKARTA, harianpijar.com – Anggota DPR RI asal Fraksi PPP Dimyati Natakusuma menilai Islam merupakan agama yang luas dan menyeluruh. Lain itu, Islam mengatur umatnya dalam segala aspek kehidupan mulai dari akidah, akhlak, pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya.

Menurut Dimyati Natakusuma, dari sekian banyak aspek yang diatur dalam Islam salah satunya adalah toleransi terhadap pemeluk agama lain, yang dikenal dengan toleransi beragama.

“Toleransi secara bahasa bermakna sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dsb) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri,” kata Dimyati Matakusuma dalam keterangannya, Jumat 3 Maret 2017.

Namun, sebelumnya Dimyati Natakusuma mengatakan, pada 16 Feberuari 2017 lalu, dalam Sosialisasi 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara, dijelaskan toleransi sebagai suatu bentuk menghargai paham yang berbeda dari paham yang dianutnya sendiri. Kesediaan untuk mau menghargai paham yang berbeda.

“Menurut istilah, toleransi diartikan sebagai  istilah budaya, sosial dan politik, ia adalah simbol kompromi beberapa kekuatan yang saling tarik-menarik,” kata Dimyati Natakusuma.

Selanjutnya, dikatakan Dimyati Natakusuma, sampai batas ini toleransi masih bisa dibawa kepada pengertian syariah Islamiyah. Namun, setelah itu berkembanglah pengertian toleransi yang bergeser semakin menjauh dari batasan-batasan Islam, sehingga cenderung mengarah kepada sinkretisme agama-agama berpijak dengan prinsip yang berbunyi “semua agama sama baiknya”.

Karena itu, menurut Dimyati Natakusuma, prinsip ini menolak kemutlakan doktrin agama yang menyatakan bahwa kebenaran hanya ada di dalam Islam. Kalaupun ada perbedaan antara kelompok Islam dengan kelompok non-muslim, maka sering dikatakan bahwa perkara agama adalah perkara yang sangat pribadi sehingga dalam rangka kebebasan, setiap orang merasa berhak berpendapat tentang agama ini, mana yang diyakini sebagai kebenaran.

“Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai, dengan sabar menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain,” kata poltikus PPP itu.

Sedangkan, juga dikatakan Dimyati Natakusuma, kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haq bil bathil, yakni mencampuradukan antara hak dan batil, suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan.

loading...