Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar, diharapkan dengan bekerja sama bisa menjadi program nyata dan membuat mantan napi tidak lagi mengulangi perbuatan serupa.

JAKARTA, harianpijar.com – Yayat Cahdiyat alias Abu Salam (41) , merupakan terduga teroris bom panci di Taman Pandawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, diketahui sebagai residivis. Lain itu, Yayat Cahdiyat yang pernah ditahan terkait kasus teror ini, bebas pada 2014 lalu.

Namun, selama berada dalam tahanan sejak 2012 tidak membuat Yayat Cahdiyat (41) untuk bertobat. Bahkan, Yayat Cahdiyat (41) melancarkan aksi teror pada Senin 27 Februari 2017, pagi, di Taman Pandawa dengan meledakan bom panci.

Selain itu, dalam aksi bom panci Yayat Cahdiyat (41) sempat lari masuk ke kantor Kelurahan Arjuna, dan mencari Densus 88 Antiteror Polri serta meminta rekannya dibebaskan.

Peristiwa yang dilancarkan Yayat Cahdiyat (41) ini, dinilai program deradikalisasi yang digagas pemerintah sejak 2014 tidak berhasil menekan aksi-aksi radikal seperti terorisme. Lain itu, Polri juga mengakui program itu belum berhasil sempurna. Namun, hal itu bakal jadi masukan untuk ‘Post Release Program’.

Menurut Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar, ini adalah upaya Polri bekerjasama dengan stakeholder lainnya agar mantan napi ini kembali kepada aktivitas normal sebagaimana masyarakat lainnya. Jauh dari kegiatan aksi teror.

“Memang ada di antara mereka ini mengalami kesulitan untuk beradaptasi dan melakukan aktivitas seperti biasa,” kata Irjen Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Selasa 28 Februari 2017.

Lebih lanjut, Irjen Pol Boy Rafli Amar, pihaknya juga telah bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Kemenkum HAM, dan Kemensos. Karena itu, diharapkan dengan bekerja sama itu bisa menjadi program nyata dan membuat mantan napi tidak lagi mengulangi perbuatan serupa.

“Ini harus dibarengi dengan deradikalisasi,”  kata Irjen Pol Boy Rafli Amar.

Selanjutnya, dikatakan Irjen Pol Boy Rafli Amar, deradikalisasi akan difokuskan ke mereka yang memiliki paham radikal dan bergabung dalam kelompok serta jaringan radikal. Untuk itu, diharapkan paham radikal bisa berkurang secara bertahap.

“Kita cukup berhasil, seperti Nasir Abbas mereka yang aktif sekarang melakukan upaya kampanye anti teror dan begitu juga Ali Imran. Jadi ini yang harus kita lakukan. Harus berupaya terus semaksimal mungkin agar mereka tidak kembali ke ativitas lamanya,” kata jenderal bintang dua itu.

Namun, dijelaskan Irjen Pol Boy Rafli Amar, upaya tersebut bukan hanya dilakukan oleh Kepolisianataupun stakeholder lain. Tetapi, masyarakt juga diharap dapat turut menjadi bagian untuk bisa mempersempit berkembangnya kelompok teror.

Salah satunya dengan peduli lingkungan dan awas dengan warga di sekitar mereka. Lain itu, jangan berikan kesempatan kelompok-kelompok ini untuk eksis di masyarakat yang berkaitan dengan agama. “Mereka seolah-olah berjuang untuk agama, padahal mereka lakukan tindak kekerasan. Dengan semangat permusuhan dan menyakiti,” tandas mantan Kapolda Banten itu.

loading...