Terkait Kredibilitas, Polri Perlu Jelaskan Kasus Antasari Azhar Ke Publik

Direktur Lembaga Kajian Strategis Kepolisian, Edi Saputra Hasibuan, hal itu penting untuk menjawab kebingungan sekaligus mencegah terjadinya spekulasi liar di masyarakat.

JAKARTA, harianpijar.com – Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sepertinya perlu menjelaskan kasus pembunuhan bos PT Rajawali Putra Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, yang menyeret mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ansari Azhar, ke publik. Hal tersebut dikatakan Direktur Lembaga Kajian Strategis Kepolisian, Edi Saputra Hasibuan.

Menurut Direktur Lembaga Kajian Strategis Kepolisian, Edi Saputra Hasibuan, hal itu penting untuk menjawab kebingungan sekaligus mencegah terjadinya spekulasi liar di masyarakat. “Ini menyangkut kredibilitas Polri. Seolah-olah di masa lalu ada rekayasa besar dalam kasus ini,” kata Edi Saputra Hasibuan, di kantor Persatuan Purnawirawan Polri, Jakarta, Kamis 23 Februari 2017 kemarin.

Lebih lanjut, Edi Saputra Hasibuan menegaskan, kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen kembali ramai, awalnya setelah Antasari Azhar melaporkan dua saksi palsu yang mengaku mengetahui pesan singkat (sms-red) berisi ancaman terhadap Nasrudin Zulkarnaen ke Bareskrim Polri.

Baca juga:   HT Dukung Jokowi, PDIP: Dukungan Harus Membaca Kehendak Rakyat

Lain itu, juga dikatakan Antasari Azhar, bahwa dirinya didatangi Bos MNC Group, Hary Tanoesoedibjo. Menurutnya, kedatangan Hary Tanoesoedibjo (HT) untuk meminta supaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dipimpinanya tidak melakukan penahanan terhadap Aulia Pohan, besan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Selanjutnya, menurut Antasari Azhar, Hary Tanoe (HT) datang sebagai utusan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karena itu, dirinya menduga mereka mengetahui ihwal rekayasa kasus pembunuhan Nasrudin.

Sementara, Edi Saputra Hasibuan juga menegaskan, kepolisian mesti membuka dan memproses kasus Antasari Azhar kembali, jika bukti-bukti yang diperlukan mencukupi. Namun, sebaliknya jika alat bukti tidak mencukupi, polisi tidak perlu memaksakan kasus itu naik ke tingkat penyidikan.

“Polisi tidak bisa memproses kasus Antasari Azhar hanya karena tekanan politik,” tegas Edi Saputra Hasibuan.

Baca juga:   SBY Merasa Malu dan Bersalah Pernah Beri Jabatan ke Moeldoko

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan kasus Antasari Azhar, akan dijelaskan mantan Kapolri Jenderal (Purn.) Bambang Hendarso Danuri, bersama penyidik yang dulu menangani kasus ini. Lantaran, pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen terjadi saat Bambang Hendraso Danuri menjabat sebagai Kapolri.

Sedangkan, kuasa hukum Antasari Azhar, Boyamin Saiman, menyambut baik rencana itu dan berharap bisa mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi. “Inilah tujuan kami untuk buka-bukaan, supaya tidak jadi misteri terus,” kata Boyamin Saiman kemarin.

Namun, mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri membatalkan rencana konferensi pers yang seharusnya digelar kemarin, Kamis 23 Februari 2017. “Salah satu penyidik yang menangani kasusnya sedang umrah. Tunggu sampai pulang,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Rikwanto.

SUMBERTempo.co

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini