Saksi Ahli Mudzakkir Akui Sempat Berhubungan dengan FPI

Tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kami miliki bukti berupa berita di media elektronik yang menulis Mudzakkir mengaku sempat bersinggungan dengan FPI.

JAKARTA, harianpijar.com – Saksi Ahli pidana yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada persidangan kesebelas kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Mudzakkir, dicecar soal hubungannya dengan Front Pembela Islam (FPI).

Lain itu, Tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memiliki bukti berupa berita di media elektronik yang menulis Mudzakkir mengaku sempat bersinggungan dengan FPI.

Menurut kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Teguh Samudra, dirinya akan tunjukkan bukti, berita tanggal 3 November 2016 yang mengatakan bahwa ‘diminta ahli pakar pidana Mudzakkir jadi saksi ahli kasus Ahok’.

Baca juga:   Sedang Umrah, Muncul Video Rizieq Shihab di Saudi dan Ngaku Keluarganya Diteror

Lebih lanjut, dikatakan Teguh Samudra, saksi ahli Mudzakkir sempat berbelit-belit, namun akhirnya Mudzakkir mengakui sempat berhubungan dengan penasihat hukum pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.

“Dia mengakui memang dihubungi penasehat hukum Rizieq dan kemudian di-take over Mabes Polri,” kata Teguh Samudra, di persidangan, yang didelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa 21 Februari 2017 kemarin.

Sementara, menurut saksi ahli pidana Mudzakkir mengatakan, dirinya sempat berdiskusi dengan sejumlah penasihat hukum Rizieq Shihab, salah satunya adalah Sugito. “Waktu berdiskusi saya jawab, ya, ada unsur penodaan agama dan setelah itu kami tidak ada dihubungi dari polisi lagi,” kenang Mudzakkir.

Baca juga:   PBNU: Petinggi FPI Bukan Ulama, Ceramah Tiap Hari Isinya Menghasut

Selain itu, dalam persidangan, saksi ahli Mudzakkir banyak menjelaskan bagian percakapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dianggap pidana. Dirinya fokus memberikan pendapat terkait ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)  ‘dibohongi’ dan ‘dibodohi’ selama sekitar 12 detik.

“Dari kata tersebut yang mengandung unsur pidana adalah kata ‘dibodohi’ dan ‘dibohongi’ itu saja. Karena kata-kata itu tidak pantas diucapkan oleh orang yang tidak berkompeten,” kata Mudzakkir dipersidangan kemarin.

 

SUMBERMetrotvnews.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Masukkan komentar Anda!
Masukkan nama Anda disini