Karena Tidak Kooperatif Untuk Diperiksa, Firza Husein Ditahan

Kombes-Pol-Argo-Yuwono
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono.

JAKARTA, harianpijar.com – Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menjelaskan apa yang menjadi alasan soal penangkapan Firza Husein, karena dinilai tidak kooperatif menyikapi panggilan kepolisian untuk diperiksa soal dugaan makar.

Lain itu, diketahui Firza Husein yang juga Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana, merupakan salah satu tersangka kasus dugaan pemufakatan makar.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono, mengatakan, Firza Husein ditangkap karena tidak kooperatif saat akan dimintai keterangan. “Yang bersangkutan tidak kooperatif saat penyidik ingin memintai keterangan untuk melengkapi berkas perkaranya,” kata Kombes Pol Argo Yuwono di Jakarta, Rabu 1 Februari 2017.

Lebih lanjut, juga ditegaskan Kombes Pol Argo Yuwono, saat pertama kali ditangkap dan ditetapkan tersangka, kepada penyidik Firza Husein mengaku akan kooperatif. Dirinya akan bersedia kapan pun penyidik memanggilnya untuk dimintai keterangan.

“Yang bersangkutan juga mengatakan siap memberi keterangan saat dihubungi penyidik. Namun kenyataannya tidak, makanya kita tangkap,” tegas Kombes Pol Argo Yuwono.

Baca juga:   Jelang Aksi 313, Polisi Tangkap Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath

Selanjutnya, menurut Kombes Pol Argo Yuwono, Firza Husein ditangkap untuk diperiksa agar berkas perkaranya segera rampung. Dirinya ditangkap di rumahnya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, Selasa 31 Januari 2017 pagi.

Sementara, saat ini Firza Husein masih berada di Markas Komando Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Dirinya masih diperiksa secara intensif oleh penyidik. “Kita putuskan untuk melakukan penahanan terhadap Firza Husein,” kata Kombes Pol Argo Yuwono.

Lain itu, Firza Husein yang juga merupakan Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendana itu, saat ini berstatus tersangka dalam kasus dugaan upaya makar. Polisi mengindikasikan adanya aliran dana untuk makar melalui Firza Husein.

Sebelumnya diberitakan, dari 11 orang yang ditangkap pada 2 Desember 2016 lalu, tujuh di antaranya disangka murni akan melakukan upaya makar. Mereka adalah Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza Huzein, Eko, Alvin Indra, dan Rachmawati Soekarnoputri. Sedangkan, terakhir Hatta Taliwang juga belakangan disangkakan terlibat dalam kasus yang sama.

Baca juga:   Soal Kasus Aksi 22 Mei, Menhan Prihatin Senior dan Juniornya di TNI Terkait Kerusuhan

Mereka bersama-sama dijerat dengan Pasal 107 jo Pasal 110 tentang Makar dan Pemufakatan Jahat.

Sementara, dua lainnya yaitu Jamran dan Rizal Khobar, diduga telah menyebarluaskan ujaran kebencian terkait isu suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA), dan makar. Keduanya disangka melanggar Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik jo Pasal 107 jo Pasal 110 jo Pasal 55 ayat 2 KUHP.

Lain itu, Sri Bintang Pamungkas ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan penghasutan masyarakat melalui media sosial, disertai dengan makar.

Sementara, Ahmad Dhani dalam penangkapan itu ditetapkan sebagai tersangka penghinaan terhadap Presiden RI Joko Widodo. Diketahui, Ahmad Dhani dijerat dengan pasal penghinaan terhadap penguasa, yakni Pasal 207 KUHP.

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar