Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin, karena mendapat desakan, MUI membentuk tim yang terdiri dari empat komisi, selanjutnya tim kemudian melakukan pembahasan dan penelitian.

JAKARTA, harianpijar.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menjadi saksi yang pertama menyampaikan keterangannya dalam sidang ke 8 kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Selasa 31 Januari 2017.

Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto dalam sidang bertanya kepada Ma’aruf Amin, dari mana dirinya mengetahui perkembangan kasus dugaan penodaan agama.

“Dari pemberitaan media cetak dan televisi,” kata Ma’ruf Amin, dalam sidang, Selasa 31 Januari 2017.

Selain itu, Ma’ruf Amin juga mengaku, ada permintaan lisan dan tertulis, serta desakan kepada MUI dari berbagai forum untuk menyatakan sikap terkait kasus itu.

Karena itu, setelah mendapat desakan, MUI membentuk tim yang terdiri dari empat komisi, yaitu komisi fatwa, komisi pengkajian, komisi hukum dan perundang-undangan, serta komisi informasi dan komunikasi. Selanjutnya, tim kemudian melakukan pembahasan dan penelitian.

“Hasilnya dilaporkan kepada pengurus harian. Laporannya intinya bagaimana hasil bahasan dengan melakukan penelitian investigasi pembahasan dan menyimpulkan bahwa pernyataan Pak Basuki mengandung penghinaan terhadap Al-Quran dan ulama,” tegas Ma’ruf Amin.

Diketahui. sampai pukul 09.37, majelis hakim masih mencecar Ma’ruf Amin dengan pertanyaan. Selain Ma’ruf Amin, ada empat saksi lain akan menyampaikan keterangan.

Dua di antaranya adalah warga Kepulauan Seribu. Saksi lainnya yaitu Komisioner KPU DKI Jakarta Dahliah Umar dan saksi pelapor, Ibnu Baskoro.

Sedangkan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) didakwa melakukan penodaan agama karena mengutip surat Al-Maidah ayat 51 saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dakwaan alternatif antara Pasal 156 huruf a KUHP atau Pasal 156 KUHP.

loading...