Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, rehabilitasi sosial jadi prioritas dan harus berjalan efektif, sehingga rantai penyalahgunaan narkoba bisa terputus.

JAMBI, harianpijar.com – Kementerian Sosial RI menilai rehabilitasi menjadi cara penting dalam penanggulangan masalah narkoba. Lain itu, Indonesia mesti keluar dari kondisi yang dianggap darurat ini.

Menurut Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, Presiden perintahkan rehabilitasi sosial jadi prioritas dan harus berjalan efektif, sehingga rantai penyalahgunaan narkoba bisa terputus.

Lebih lanjut, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan, darurat Narkoba ini bukan tanpa alasan. Setiap hari tidak kurang dari 40 – 50 orang tewas lantaran narkoba. Sindikat lain bahkan telah membidik pasar baru usia dini, termasuk menjadikan anak-anak sebagai pengedar narkoba.

Selanjutnya, Khofifah Indar Parawansa, kondisi tersebut sangat memprihatinkan, dan menjadi ancaman bagi generasi masa depan bangsa. “Kita perlu bergandengan tangan dalam penangananan dan upaya yang komprehensif, ” kata Khofifah Indar Parawansa, di Jambi, Sabtu 28 Januari 2017 kemarin.

Lain itu, juga menurut Khofifah Indar Parawansa, sindikat internasional telah mempelajari secara detail hukuman maksimal bagi pengedar anak – anak setengah dari orang dewasa. Hal ini, menurutnya akan terus dipantau oleh bandar tersebut.

“Mereka mempelajari secara detil dan hukuman bagi pengedar anak-anak maksimal setengah dari orang dewasa. Sekitar 3,5 tahun keluar dan parahnya akan terus dipantau,” tegas Khofifah Indar Parawansa.

Karena itu, ditegaskan Khofifah Indar Parawansa, proses rehabilitasi sosial terhadap korban penyalahgunaan narkoba seharusnya tidak hanya dilakukan oleh kementerian/lembaga. Melainkan harus dilakukan oleh keluarga dan masyarakat dan ini menjadi sangat strategis.

“Sampai 2017 ini, ada 160 IPWL terdaftar di Kementerian Sosial. Hal ini upaya memperluas penjangkauan dan pelayanan, di tahun 2016 lalu dibangun tujuh IPWL diantaranya di Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, serta Maluku Utara, ” tegas Khofifah Indar Parawansa.

Sementara, Khofifah Indar Parawansa juga mengingatkan, usai menjalani proses rehabiitasi, pendampingan penting dilakukan sebagai bagian dari keseluruhan proses penyembuhan terhadap korban narkoba agar mereka bisa menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat.

“Tidak bisa dilepas begitu saja, usai menjalani proses rehabilitasi sosial perlu ada pendampingan agar tidak ditarget lagi sama Bandar narkoba,” kata Khofifah Indar Parawansa.

Lain itu, di beberapa kota sudah berjalan Family Support Group. Selain menguatkan para korban narkoba, di sana mereka bisa menjadi tempat curhat, teman berbagi, serta memonitor lingkungan dan teman pergaulan korban.

“Saya kira penting dilakukan keluarga, jangan sampai terpapar narkoba kembali, terlebih saat ini bentuk dan variannya begitu banyak, ” tandas Menteri Sosial itu.

Sementara, menurut Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengatakan, di wilayahnya ada 47.000 pengguna narkoba yang tersebar merata di hampir 11 kabupaten/kota. Menurutnya, sebagian besar penggunanya berusia anak-anak.

“Kalau saja tidak waspada, maka usia produktif bisa hilang karena narkoba tersebut,” kata Zumi Zola Zulkifli.

Lebih lanjut, Zumi Zola Zulkifli juga menegaskan, Pemprov Jambi mendukung berbagai upaya penanggulangan narkoba. Namun, tidak hanya itu Pemprov juga siap memfasilitasi proses pasca rehabilitasi sosial terhadap korban penyalahgunaan narkoba.

“Kami tidak hanya mengajak masyarakat memerangi narkoba, tapi perlu mengantisipasi bersama-sama dan siap melaksanakan penanganan pasca rehabilitasi sosial terhadap korban narkoba,” tegas Zumi Zola Zulkifli.

SUMBERMetrotvnews.com
BAGIKAN
BERITA PILIHAN SPONSOR