Pendeta Max Evert Ibrahim Tangkudung, terdapat ujaran penceramah yang memerintahkan pembunuhan dan diduga merupakan suara Rizieq Shihab.

JAKARTA, harianpijar.com – Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab kembali dilaporkan ke polisi atas ucapannya yang diduga telah menimbulkan provokasi antar umat beragama, Kamis 27 Januari 2017. Lain itu, ucapan itu terekam dan tersebar melalui akun media sosial.

Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dilaporkan oleh seorang pendeta bernama Max Evert Ibrahim Tangkudung yang tergabung dalam Tim Pembela Demokrasi Indonesia.

Laporan tersebut diterima dengan LP/93/1/2017/Bareskrim tanggal 26 Januari.

Lebih lanjut, ucapan Rizieq Shihab yang dilaporkan adalah perintah untuk membunuh pendeta. Dalam ceramah yang menyebar sekitar bulan Maret 2016 di YouTube, terdapat ujaran penceramah yang memerintahkan pembunuhan dan diduga merupakan suara Rizieq Shihab.

“Setelah melihat itu (video ceramah-red) timbul rasa was-was juga, kata-kata ini merangsang orang lain untuk melakukan (pembunuhan). Ini kan berbahaya, nanti kalau terjadi apa-apa dengan saya, bisa ngamuk orang di Manado, dikiranya dibunuh saya,” kata Max Evert Ibrahim Tangkudung di Polda Metro Jaya.

Selanjutnya, suara dalam video tersebut dianggap memprovokasi massa yang mendengarkan ceramah. Setelah orang yang diduga Rizieq Shihab itu menyampaikan kata-kata yang dipermasalahkan, orang-orang langsung menyambut dengan teriakan takbir.

Sementara, Max Evert Ibrahim Tangkudung, merupakan seorang pendeta di Gereja Iman Sejati Kaum Imanuel di Minahasa, Sulawesi Utara. Dirinya juga mengaku, baru melihat video tersebut pada 20 Januari lalu dan merasa kaget mendengar kata-kata dalam video itu.

Menurut Max Evert Ibrahim Tangkudung, seorang pemimpin agama seharusnya memberikan ceramah yang dapat memajukan pemikiran masyarakat bukan dengan memberikan ceramah berisi untaian kebencian.

“Agama harus mengajarkan orang lain maju menjadi lebih baik. Tidak boleh ada kebencian karena kebencian menghalangi masa depan, sebab itu kami harus melaporkan,” jelas Max Evert Ibrahim Tangkudung.

Saat melapor awalnya, Max Evert Ibrahim Tangkudung bersama kuasa hukumnya, Makarius Nggiri Wangge, mendatangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan Rizieq Shihab.

Namun, pihak Polda Metro Jaya melempar pengaduan itu ke Bareskrim Polri karena tidak diketahui lokasi pasti saat ceramah itu dilakukan.

Sedangkan, menurut kuasa hukumnya, Makarius Nggeri Wangge mengatakan, kejadian itu bukan karena berkaitan dengan pendeta namun karena sudah mengancam kedamaian masyarakat dan bersifat provokasi. Lain itu, dirinya juga tidak mengetahui lokasi yang menjadi tempat ceramah Rizieq Shihab.

Untuk menguatkan laporannya itu, mereka menyertakan barang bukti berupa rekaman video yang diambil dari YouTube.

“Tindakan yang dilakukan saudara Rizieq Shihab ini bisa memecah belah kehidupan toleransi umat beragama di Indonesia dan ini akan menyebarkan kebencian dan permusuhan serta menimbulkan disintegrasi bangsa,” kata Makarius Nggeri Wangge.

Rizieq Shihab diadukan melanggar Pasal 156 KUHP dan Pasal 45a UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 Pasal 28 Ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik.

loading...