Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Ir.Abu Bakar, telah beberapa kali menyurati Pemerintah Kota Bengkulu melalui dinas teknis-nya, agar segera mengurus izin.

BENGKULU, harianpijar.com – Sebanyak tujuh belas ekor satwa yang dilindungi di Taman Satwa Kota Bengkulu, keberadaannya diambil alih pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Pasalnya, taman satwa Kota Bengkulu yang telah berdiri selama 11 tahun hingga saat ini belum memiliki izin.

Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Ir. Abu Bakar, pihaknya sejak tahun 2016 lalu, telah beberapa kali menyurati Pemerintah Kota Bengkulu melalui dinas teknis-nya, agar segera mengurus izin.

Namun, menurut Abu Bakar, hingga surat terakhir kita akhir November tahun lalu, jika izin tidak diurus, maka setiap satwa yang dilindungi diambil untuk dikelola sebagaimana mestinya oleh pihak yang berkompeten.

Lebih lanjut, juga menurut Abu Bakar, tidak adanya keinginan pihak Pemerinta Kota untuk mengurus perizinan, diduga karena dualisme pengurusannya. Karena diketahui, lahannya masih milik Pemerintah Propinsi (Pemprov) Bengkulu, sedangkan untuk pengelolaannya berada di Pemerintah Kota.

Selanjutnya, begitu juga dengan kandang tempat satwanya juga dinilai tidak layak lagi. Lain itu, pihaknya juga sudah menyurati agar segera memperbaikinya. Namun, lagi-lagi karena persoalan aset dan anggaran tidak terealiasi dengan baik.

“Ini persoalan aset yang belum jelas. Sehingga untuk anggaran dana-nya tidak bisa dikeluarkan untuk pengelolaannya,” kata Abu Bakar, saat dikonfirmasi di Bengkulu, Senin, 23 Januari 2017 kemarin.

Sementara, juga dikatakan Abu Bakar, dari beberapa ekor satwa yang dilindungi tersebut ada yang telah diambil, yakni 3 ekor Siamang, Binturung dan Elang masing-masing 1 ekor, untuk dilepas-liarkan ke alam bebas.

Sedangkan, Buaya, Rusa, Kijang, Burung Elang, Bangau, Burung Hantu dan Enggang, sembari mendapatkan lembaga konservasi yang tepat untuk memeliharanya, dan layak untuk memelihara satwa tersebut.

Lain itu, dijelaskan Abu Bakar, untuk burung Elang yang kita ambil, langsung dilepas-liarkan ke alam bebas. Namun, untuk Siamang masih ada yang dilakukan rehat atau penyesuaian sebelum dilepas liarkan di kawasan hutan Semidang Bukit Kabu, Kabupaten Seluma.

“Satwa yang hingga kini masih berada di taman satwa Kota Bengkulu, kita masih mengurus lembaga konservasi yang tepat untuk memeliharanya, dengan memperhatikan kesejahteraannya atau mencarikan pasangannya” jelas Abu Bakar.

Karena itu, dirinya berharap, permasalahan yang sempat menjadi keteledoran pihaknya ini kedepan tidak akan terjadi lagi. Untuk itu, pihaknya telah mengambil tindakan tegas berupa penutupan Taman Satwa Kota Bengkulu.

Selain itu, Abu Bakar, juga menegaskan, terkait pengambil alihan tersebut, pihaknya berpijak dari hasil audit Irjen Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang keberadaan Taman Satwa yang illegal.

“Kita akui kelemahan kita selama ini dan didukung dengan hasil audit Irjen Kemen-LHK, persoalan ini tidak akan terjadi kembali dan semua satwa yang dilindungi akan kita kembalikan kealam dan ada yang diserahkan ke lembaga koservasi yang tepat,” tandas Abu Bakar.

loading...