Polda Metro Jaya: Nyawa Ahok Merasa Terancam Akibat Status Facebook Buni Yani

Akibat status Facebook Buni Yani, nyawa calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merasa terancam.

JAKARTA, harianpijar.com – Kepolisian Daerah Metro Jaya (Polda Metro Jaya), melalui kuasa hukumnya, menyebut, calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merasa nyawanya terancam akibat status Facebook Buni Yani.

Hal tersebut terungkap dalam pembacaan jawaban Polda Metro Jaya terhadap pokok permohonan praperadilan penetapan status tersangka Buni Yani oleh Polda Metro Jaya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu 14 Desember 2016.

Menurut anggota tim kuasa hukum Polda Metro Jaya, Nova Irone Surentu, saksi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merasa mengalami fitnah karena banyak orang, terutama warga DKI Jakarta, berpikir saksi menistakan agama.

Lain itu, saksi Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga merasa terancam keselamatannya karena ada tawaran membunuh saksi dengan bayaran Rp 1 miliar. “Terancam oleh aksi 4 November, diminta mundur dari pencalonannya dalam Pilkada, dan ditolak di sejumlah tempat saat kampanye,” kata Nova Irone Surentu di hadapan majelis hakim.

Baca juga:   Buni Yani Penuhi Panggilan Polisi, Kasusnya Dilimpahkan Ke Kejati Jabar

Sementara Buni Yani yang ikut hadir di dalam ruang sidang, terlihat hanya terdiam sambil sesekali mencatat poin-poin jawaban kuasa hukum Polda Metro Jaya.

Sedangkan saat di kepolisian, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersaksi bahwa ucapannya dalam video utuh yang diunggah ulang oleh Buni tidak seperti isi status Facebook Buni Yani yang hanya menampilkan sebagian dan menghilangkan kata “pakai”.

Lain itu, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga turut menjelaskan kepada penyidik siapa saja yang hadir dalam video yang direkam saat kunjungan kerja di Kepulauan Seribu. Sedangkan penetapan status tersangka Buni Yani bermula dari laporan Komunitas Muda Ahok Djarot (Kotak Adja) ke Polda Metro Jaya.

Baca juga:   Kuasa Hukum: Buni Yani Siap Beracara di Pengadilan, Itu Akan Membuka Perkara Jadi Terang

Sementara, Ketua Kotak Adja, Muannas Alaidid, berpendapat Buni Yani memprovokasi masyarakat melalui unggahan ulang video pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat di Kepulauan Seribu.

Akibat perbuatannya Buni Yani diancam hukuman kurungan maksimal enam tahun penjara dan denda hingga Rp 1 miliar. Lain itu, Buni Yani dijerat Pasal 28 ayat 2 juncto Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik tentang penyebaran informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA.

PILIHAN SPONSOR

BACA JUGA
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar